Selasa, 31 Juli 2018

Teknik Budidaya Jagung

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penghela  perekonomian bangsa Indonesia. Dalam hal ini pertanian merupakan salah satu penyumbang  devisa bagi  negara, khususnya dari sektor ekspor impor. Menyadari akan hal tersebut, Kementrian Pertanian menetapkan arahdan Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian Tahun 2010 – 2014 dengan Visi yaitu “Terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumber daya local untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani.” Untuk mewujudkanVisi tersebut, Kementrian Pertanian menetapkan 4 (empat) Program Sukses Pembangunan Pertanian 2010 – 2014, yaitu (1) Pencapaian swasembada pangan dengan sasaran utama komoditas kedele, gula/tebu dan daging sapi serta swasembada berkelanjutan dengan sasaran utama komuditas padi dan jagung; (2) Peningkatan diversifikasi pangan dengan sasaran utama penurunan konsumsi beras 1,5% per tahun dan peningkatan skor Pola Pangan Harapan; (3) Peningkatan nilai tambah, daya saingdan ekspor dengan sasaran utama pemilihan komoditas penghela untuk industri pedesaan dan produk olahan serta peningkatan surplus neraca perdagangan; dan (4) Peningkatan kesejahteraan petani dengan sasaran utama pencapaian rata-rata laju peningkatan pendapatan per kapita sebesar 11,10% per tahun.
        Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras.  Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak khusus pakan ayam.  Jagung mempunyai nilai gizi yang tinggi dan mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi pula, hampir sama dengan kandungan yang ada pada beras. Jagung juga dapat dijadikan panganan bagi penderita penyakit tertentu seperti diabetes. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula.

       Usaha peningkatan produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua program utama yaitu yakni : (1) ekstensifikasi (perluasan areal) dan (2) intensifikasi (peningkatan produksi).  Program perluasan areal pertanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalu pengaturan pola tanam.  Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi adalah  dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan.  Usaha-usaha tersebut nyata meningkatkan produktivitas jagung terutama dengan penerapan inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas). Teknik Budidaya

1.    Benih
Benih yang digunakan pada awal mereka berusaha tani jagung adalah menggunakan varietas NT10 dan selanjutnya menggunakan varietas – varietas unggul yang  lainnya seperti NK 22 Super Jumbo, BISI 222 yang sudah distraitmen mengunakan redomil. Varietas unggul ini digunakan karena bisa meningkatkan produksi dari 2,5 ton/Ha menjadi 12,6 ton/Ha. Mereka menggunakan varietas – varietas unggul ini juga untuk menekan serangan hama dan penyakit

2.    Penyiapan lahan
Penyiapan lahan dilakukan dengan 2 cara yaitu sistem TOT dan pengolahan secara  intensif mengunakan mini traktor. Pembajakan tanah dilakukan   dengan membalik tanah  lapisan atas kemudian dilanjutkan  pembuatan larik tanam. Pengolahan tanah menggunakan Hand Tractor mampu mempercepat pembukaan lahan dan persiapan tanam. Sebelum melakukan penanaman tersebut dilakukan penjemuran yang tujuannya adalah untuk menekan pertumbuhan jamur,hama dan penyakit

3. Pemupukan dasar
Pemupukan dasar diberikan seminggu sebelum tanam. Dengan mengunakan pupuk kandang ayam petelur yang sudah dicampur dengan kapur dolomit sebanyak  4- 7 ton/ha ditambah dengan 150 kg pupuk Sp- 36 yang ditaburkan merata pada larikan lubang tanam.

4. Penanaman
Penanaman jagung dilakukan dengan mengunakan tugal dengan sistem zigzag dalam barisan tanaman dengan jarak tanam 70 x 20 cm, dengan jumlah 1 biji/lubang tanam sehingga dapat dihasilkan  sekitar  70.000 populasi tanaman/Ha.  Keuntungan tanam cara ini;perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik, pencahayaan lebih merata, tanaman tumbuh kuat dan kokoh.

5. Pemeliharaan
a.    Pengendalian Gulma
Pemeliharaan tanaman jagung meliputi pengendalian gulma, pemupukan, dan  pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian gulma   dilakukan sesuai kondisi  gulma dan pertumbuhan  tanaman jagung, yaitu saat tanaman berumur 10 HST dengan penyemprotan herbisida Karalis 1,5 l/Ha. Dan saat tanaman belum berbunga dan belum keluar  akar gantung (umur 30 HST) serta setelah berbunga (umur 45HST), masing-masing penyemprotan dengan menggunakan herbisida Moxson 30 ml/liter air  dan DMA  50 ml/liter air.

b.    Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan I  pada umur 12 HST dengan menggunakan pupuk NPK 150 kg  dan  ditugal sekitar tanaman.Pemupukan susulan ke II dilakukan saat umur  25 HST  mengunakan pupuk NPK 100 kg  dan  Urea 50 kg dengan cara didangir. Dan pemupukan susulan ke III saat berumur  35 HST dengan  pupuk NPK 50 kg  dan  Urea 100 kg juga dengan cara didangir.

c.    Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menerapkan prinsip pengendalian secara terpadu, seperti;penggunaan  varitas unggul, pengaturan jadwal tanam dan  pestisida buatan sendiri (campuran sunsilk dan rinso). Penyemprotan  hanya dilakukan bila terjadi serangan ulat daun.

6. Panen dan Pasca Panen
        Pemanenan  dilakukan pada umur 120 hari atau masak fisiologis dengan ciri;  daun mulai menguning, klobot berwarna coklat, biji bila ditekan dengan kuku tidak berbekas. Selain itu jika cuaca memungkinkan, dapat  dilakukan penundaan panen  dengan membiarkan tongkol jagung tetap pada batangnya. Adapun caranya dengan memotong  daun bagian atas   bertujuan  untuk mengurangi kadar air jagung..
          Penanganan pasca panen biasa dilakukan  dengan  mengupas klobot jagung lalu dimasukkan dalam karung selanjutnya segera dilakukan pemipilan  dengan mesin pemipil jagung. Hal ini  untuk menghindari kerusakan mutu jagung pipil.

7. Pemasaran
        Untuk pemasaran hasil disesuaikan  dengan permintaan pabrik, yaitu jagung  glondongan atau jagung pipilan.  Untuk jagung pipilan pabrik menghendaki standar mutu dengan  kadar air sekitar 3% - 14%. Rata-rata harga jual jagung kering pipil berkisar antara  Rp 3.000,-  sampai Rp 3.100,-/kg.  Jika mutu jagung yang dihasilkan kurang baik, pemasaran langsung ke peternak ayam, dengan harga jual  Rp 2.000,- sampai Rp 2.100,-/kg.  Hanya saja pemasaran ke pabrik pakan ternak (JAFFA COMFEED) dilakukan secara berkala untuk masing-masing  kecamatan, yakni tiap 3 hari sekali.

Sumber: http://bbppbinuang.info/news46-teknik-budidaya-jagung.html